Pemkot Serang Diminta Peduli Lingkungan

SERANG – Pemkot Serang diminta untuk melakukan program-program yang peduli lingkungan. Itu seiring dengan banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi di Kota Serang.
Hal itu terungkap pada acara tasyakuran Yayasan Saung Hijau Indonesia (SAHID) di Kelurahan Kiara, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Kamis (4/3/2021).
Ketua Yayasan SAHID, Aan Nurhadiyat mengatakan, pendirian yayasan tersebut dikarenakan saat ini banyak sekali industri yang menjamur dan cenderung melakukan perusakan terhadap alam.
“Karena saat ini menjamur industri pabrik, tentu banyak pembebasan lahan dan banyak penebangan pohon, hal itu harus diimbangi dengan penanaman pohon kembali,” ujarnya usai kegiatan tasyakuran di basecamp Yayasan SAHID,
Menurutnya, salah satu tugas dari SAHID yaitu mendorong kebijakan Pemerintah untuk gemar menanam pohon kembali, agar tidak merusak ekosistem lingkungan, dan dapat menjaga ketersediaan air. “Ini penting untuk keberlangsungan hidup manusia,” ucapnya.
Lebih lanjut, Aan menegaskan bahwa Yayasan SAHID akan melakukan hal-hal yang nyata dan kongkret. Ia berpesan agar organisasi SAHID jangan NATO atau not action talk only, tidak ada action, banyak diskusi.
“Lingkungan ini sangat penting dijaga. Lingkungan dijaga, pepohonan kalaupun ditebang untuk kepentingan-kepentingan industri tetapi ditanam kembali, agar berimbang,” pungkasnya.
Sementara itu, Dewan Pendiri Yayasan SHI, Tb Haerul Jaman menyampaikan berharap SHI dapat memberikan sesuatu yang lebih untuk memberikan berbagai hal terkait lingkungan kepada masyarakat.
“Tentunya menjadikan kegiatan SAHID terhadap rencana kerjanya kedepan, terkait konsep go green, bisa memberikan edukasi dan kontribusi,” katanya.
Menurutnya, edukasi terkait menjaga dan memelihara lingkungan adalah hal yang terpenting untuk semuanya, terutama masyarakat. Ia menyatakan, banyak pembangunan yang tidak matang dalam melakukan kajian. Sehingga berdampak pada perubahan di bumi, meskipun alasannya percepatan pembangunan.
“Dampak-dampak inilah yang kadang kala menjadi petaka untuk kita semua. Ada genangan, banjir, longsor maupun gempa di seluruh penjuru. Air harus terjaga, air jangan sampai membuat kita menjadi musibah, menjadi celaka,” ungkapnya.
Meski tanpa ada bantuan dari Pemerintah, Jaman menegaskan kegiatan yang dilakukan saat ini dari kita dan oleh kita saja. Mencoba dari yang terkecil, hingga yang terbesar.
“Mengingatkan untuk berdiskusi dengan Pemerintah. Setelah mengingatkan, ya terserah kebijakannya seperti apa. Sehingga kita bisa mewarnai keberadaan saung hijau ini, untuk sedikitnya memberikan kontribusi,” tandasnya.






