Setelah Tragedi Kebakaran, Napi Lapas Tangerang Cemas

TANGERANG, – Paska Kebakaran Blok C2 Lapas Kelas 1 Tangerang, Rabu (8/9) lalu, Pemerintah Kota Tangerang memberikan trauma healing untuk para narapidana. Pelayanan kesehatan jiwa ini diikuti puluhan narapidana khususnya napi blok C, yang mengalami langsung kejadian yang menewaskan 49 napi ini.
dr Indri Bevy, Kepala Bidang P2P, Dinkes Kota Tangerang mengungkapkan, program trauma healing digelar sejak Selasa (14/9) hingga Jumat (17/9) bersama RSUD Kota Tangerang dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI).
Ia menjelaskan, sejak hari kedua insiden kebakaran terjadi, tim Dinkes sudah turun untuk melakukan pendekatan, penenangan dan pendalaman terkait sejauh apa gangguan psikis atau mental yang diderita korban selamat Blok C. Begitu juga dengan mereka blok tetangga yang sekadar mendengar atau melihat proses kejadian.
“Sebelum para napi bertemu dokter, Dinkes telah menyebar kuesioner dengan 29 poin pertanyaan. Hasilnya, baru ditentukan mereka membutuhkan penanganan psikiater atau psikolog dengan berbagai status traumanya,” papar dr Bevy, Kamis (16/09/2021).
Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan, RSUD Kota Tangerang, dr Amir Ali mengungkapkan hasil kuesioner para napi banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur. “Maka, pada trauma healing ini belasan dokter psikiater dan psikolog diturunkan. Melakukan trapi kejiawaan dan trapi pengobatan. Sejauh ini belum ada yang naik pada tahap rujukan,” ungkap dr Amir.
Pada proses terapi, kara dr Amir dilakukan secara person to person sehingga sampai saat ini baru sekitar 83 napi yang ditangani. “Angka ini masih akan terus bertambah. Jika trauma healing seperti ini tidak dilakukan tidak menutup kemungkinan, para napi dapat mengalami kecemasan yang lebih dalam atau depresi yang mendalam,” katanya.
Salah satu napi kasus narkoba berinisial H yang mengaku pasca kejadian cukup mengalami trauma. Terlebih, ia pernah merasa salah satu korban meninggal yang merupakan temannya juga, menghampiri dirinya di beberapa hari pasca kejadian.
“Mungkin karena saya kepikiran dan mengingat-ngingat dia, jadi saya merasa dia datang ke saya. Tapi kalau sekarang, yang saya rasa lebih ke ingin suasana yang ramai, tidak mau sepi. Jadi pelayanan kesehatan seperti ini saya rasa, saya membutuhkannya untuk saya mengetahui kejiwaan saya,” tuturnya. (gus/red)









