Penjalasan MUI Kota Serang Tentang Rebo Wakasan

SERANG,- Hari ini, banyak masyarakat di Kota Serang melaksanakan tradisi Rebo Wakasan. Sejak pagi hari, berbagai kelompok masyarakat melaksanakan mandi kembang dan juga shalat sunah untuk menolak bala.
Namun taukah kita tentang sejarah dari Rebo Wakasan?. Dalam hal ini, Sekertaris MUI Kota Serang, Amas Tajudin menjelaskan terkait rebo Wakasan.
Amas mengatakan, Rebo Wakasan merupakan hari rabu akhir di bulan Safar. Berdasarkan dari dua kitab populer di kalangan pesantren, yang pertama kitab Derbi, kedua kitab Kanjunnajah.
“Di dalam dua kitab ini disebutkan, bersumber dari pengarang kitab Min Ahlil Kashdi wa tamkin, berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dari ulama tasawuf mumpuni. Syaikh Abdul Hamid Al-Qudsi itu, adalah imam besar masjidil haram ketika menulis kitab tersebut,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telefon, Rabu (6/10/2021).
Ia menceritakan, didalam kitab tersebut dijelaskan bahwa terdapat 320 ribu jenis penyakit bala yang diturunkan Allah SWT untuk menguji makhluk di muka bumi, dan dari 320 ribu itu bisa berkembang berlipat sehingga jumlahnya jauh lebih banyak lagi yang diturunkan pada hari rabu di akhir bulan Safar.
“Oleh karena itu, para ulama tasawuf, ulama bijak dianjurkanlah dan dibuat konsep cara menolak bala. Yang dimaksud menolak bala itu dirumuskanlah salat empat rakaat dengan dua rakaat, dua rakaat. Pada hari rabu terakhir bulan safar di waktu duha. Maka, orang Jawa menyebutnya Rebo Wakasan,” terangnya.
Menurutnya, tidak ada hal yang bertentangan dengan syariat terkait pelaksanaan tradisi rebo Wakasan. Yang dimaksud tolak bala adalah salat niat salat hajat atau salat mutlak yang ditujukan untuk menolak bala atau menjauhkan dari bala petaka dan penyakit yang akan menggangu kehidupan manusia seperti Covid-19.
“Oleh karena itu, maka Ponpes di nusantara khusus di Provinsi Banten, ulama salafi terdahulu hingga kini melaksanakan salat rebo wakasan, artinya salat dua rakaat, dua rakaat atau salat tolak bala. Niatnya sepanjang tidak kontroversial, karena salat hajat dan salat mutlak tidak mengenal waktu,” jelasnya.
Selain dianjurkan shalat, umat muslim juga dianjurkan untuk memberikan sedekah baik berbentuk makanan dan lain-lain. Hal tersebut lantaran sedekah sendiri dapat menolak bala.
“Ketiga dianjurkan agar ikhtiar mengarah penolakan bala diikhtiarkan, seperti mandi bebersih, membuat bacaan atau wafak (tulisan alquran) sebagai wasilah sehingga menjadi penolak bala,” imbuhnya.
Lebih lanjut mengenai tradisi mandi kembang 7 rupa pada momen rebo wakasan, Amas menilai jika itu bermakna spiritualistik. Menurutnya, sepanjang diniatkan untuk mandi membersihkan diri lahir dan batin lalu diniatkan karena Allah SWT itu tak masalah.
“Soal kembang berupa-rupa dan berwarna-warna anggap saja itu ramuan-ramuan atau rempah-rempah yang hendak dipakai mandi. Seperti, honje, daun salam, dan kembang-kembangan,” tandasnya. (Arr)






