amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss2ac47{clear:both;margin-bottom:1em;margin-top:0em;}div.acssbb8d6{padding-left:1em;padding-right:1em;}div.acss138d7{clear:both;}div.acssf5b84{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:2;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .code-block-default {margin: 8px 0; clear: both;} .code-block- {} .ai-align-left * {margin: 0 auto 0 0; text-align: left;} .ai-align-right * {margin: 0 0 0 auto; text-align: right;} .ai-center * {margin: 0 auto; text-align: center; } .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
BERITA

Mengapa Mengeluh?

By Jamil Azzaini

 

Mengapa kau mengeluh rezekinya sempit, padahal pekerjaan yang kau lakukan kualitasnya memang hanya “recehan” dan terjebak pada rutinitas yang menjemukan. Rezeki memang datang dari Allah tetapi bagaimana agar rezeki datang kepadamu dengan deras, tugasmulah yang menciptakan jalannya.

 

Jangan berharap sesuatu yang besar bila nyalimu kecil, pekerjaanmu tak berkualitas dan kau tak berani melakukan terobosan .

 

Mengapa kau mengeluh banyak hutang, padahal itu ulah perilakumu yang lebih mengedepankan keinginan dari pada kebutuhan. Lebih mengedepankan gengsi dibandingkan esensi. Lebih mengedepankan pujian orang daripada menata dan memperbaiki kehidupanmu.

 

Mengapa kau mengeluh karir atau bisnismu stagnan? Bukankah itu akumulasi dari perilakumu selama ini. Kerja asal kerja, bisnis asal bisnis. Sesuatu yang dilakukan asal-asalan hasilnya merugikan. Terlihat kerja tetapi menyiksa. Terlihat sibuk tapi tak menghasilkan. Lelah tapi tak dapat rupiah. Lelah tapi tak tercatat sebagai ibadah.

 

Mengapa kau mengeluh ini dan itu padahal perilakumu juga cuma ini dan itu. Tahu diri dong kalau mau ngeluh. Semua yang terjadi itu karena ulahmu. So, mengapa kau harus mengeluh? Bukankah itu berarti “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri?

 

Mengeluh itu manusiawi tetapi bila terlalu banyak mengeluh itu artinya hidupmu sedang jatuh ke dasar bumi.

 

Salam SuksesMulia

admin

Recent Posts

Perawatan Rutin Pamsimas KKM Sehati, Warga Cikentrung Semakin Terjamin Akses Air Bersih

  PANDEGLANG — Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) Sehati Desa Cikentrung, Kecamatan Cadasari, kembali melaksanakan kegiatan…

23 jam ago

KPI Independen, Adaptif, dan Berkeadilan, Meneguhkan UU, Mendorong Co-Regulation

Di TENGAH derasnya arus digitalisasi dan konvergensi media, posisi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kian strategis…

2 minggu ago

Polsek Cadasari Bersama Petani Gelar Panen Jagung Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Pandeglang – Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden,…

3 minggu ago

Islah Bupati dan Wakil Bupati Lebak Disambut Positif, Golkar Optimis Pembangunan Makin Solid

LEBAK - Sekretaris Golkar Lebak sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Lebak, Muammar Adi…

3 minggu ago

Longsor TPST Bantargebang, Komisi I DPRD Kota Bekasi Desak Evaluasi Kerja Sama

Kota Bekasi - Komisi I DPRD Kota Bekasi angkat bicara soal insiden longsor di Tempat…

1 bulan ago

Banggar DPRD Kota Bekasi Awasi Ketat Penyertaan Modal BUMD

Kota Bekasi — DPRD Kota Bekasi memastikan akan memperketat pengawasan terhadap kebijakan penyertaan modal pemerintah…

1 bulan ago