amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss2ac47{clear:both;margin-bottom:1em;margin-top:0em;}div.acssbb8d6{padding-left:1em;padding-right:1em;}div.acss138d7{clear:both;}div.acssf5b84{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:2;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .code-block-default {margin: 8px 0; clear: both;} .code-block- {} .ai-align-left * {margin: 0 auto 0 0; text-align: left;} .ai-align-right * {margin: 0 0 0 auto; text-align: right;} .ai-center * {margin: 0 auto; text-align: center; } .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
BERITA

Saluran Air Tasikardi Sampai Kraton Surosowan Digali

SERANG,- Badan Pelestarian Cagar Budaya l (BPCB) Banten melakukan ekskafasi atau penggalian terhadap jalur air yang dulunya digunakan pada masa kesultanan Banten untuk mengalirkan air dari danau Tasikardi menuju Surosowan. Penggalian dilakukan di dekat situs Pangindelan Emas yang ada di Kampung Suka Diri, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Petugas dari BPCB Banten dibantu oleh tim peneliti arkeolog dari perguruan tinggi dan juga masyarakat. Penggalian sendiri dimaksudkan untuk mempelajari sistem pengaliran dan penjernihan air yang digunakan pada masa Kesultanan Banten.

Ketua tim Ekskafasi, Bayu Aryantoo mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, bangunan Pangindelan diketahui telah ada sejak tahun 1703 masehi. Untuk itu pihaknya ingin memastikan sistem yang digunakan pada saat itu untuk pengaliran sekaligus penjernihan air.

“Jadi sampai di surosowan itu yang tadinya keruh menjadi jernih saat sampai di surosowan. Kita ingin memastikan apakah itu benar dan bagaimana sistemnya,” katanya, Kamis (7/10/2021).

Sebelum sampai di Surosowan, lanjut Bayu, air dari danau Tasikardi ditampung terlebih dahulu di 3 pangindelan yang ada di sepanjang jalur menuju Surosowan.

“Air dialirkan ke 3 Pangindelan yang ada yakni pangindelan Abang, pangindelan Putih dan pangindelan emas sebelum akhirnya sampai di Surosowan,” terangnya.

Rencananya penggalian sendiri akan dilakukan pada sepanjang jalur di jarak kurang lebih 2km dengan titik penggalian pada setiap 50 meter. “Namun demikian untuk jarak tatik penggalian sendiri akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bayu mengatakan jika penggalian sendiri dilakukan bukan untuk diaktivasi kembali melainkan hanya untuk penelitian. Selain itu, pengaktivasian tidak dapat dilakukan lantaran kondisi yang sudah berubah.

“Sumbernya sendiri di Tasikardi lingkungannya sudah berubah. Selain itu, kondisi di sepanjang jalurnya pun sudah berubah sehingga tidak dimungkinkan untuk difungsikan kembali,” imbuhnya.

Lebih lanjut, bayu mengatakan jika nantinya hasil penelitian akan dibuatkan sebuah media untuk edukasi sekaligus sosialisasi.

“Hasil penelitian sendiri nantinya akan dibuatkan animasi tentang sistem pengairan yang dipakai pada masa kesultanan banten. Itu semua untuk edukasi dan sosialisasi bagi masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu Arkeolog dari Universitas Indonesia, Dian Nisa mengaku sangat tertarik untuk mempelajari sistem perairan yang digunakan di Kesultanan Banten. Menurutnya, sistem perairan yang ada di suatu wilayah mencirikan sistem peradaban yang ada di wilayah itu.

“Bagi saya saluran air itu memiliki daya tarik tersendiri dan menjadi salah satu ciri peradaban yang maju. Dengan adanya sistem perairan yang seperti ini, menandakan jika peradaban pada masa Kesultanan Banten itu maju,” tandasnya. (Arr)

admin

Recent Posts

Siap Hadirkan Kemewahan Bintang 5 di Pesisir Pantai, Mövenpick Resort Carita Resmi Dibuka

SERANG – Sektor pariwisata di kawasan pesisir barat Banten, khususnya destinasi legendaris Anyer-Carita, resmi memasuki…

6 hari ago

378 Jemaah Haji Kota Serang Resmi Dilepas, Tiga Orang Tunda Keberangkatan

SERANG - Pemerintah Kota Serang resmi melepas keberangkatan 378 jemaah haji Kloter 20 GA JKB…

1 minggu ago

Distan Banten Tingkatkan Kapasitas Penyuluh Swadaya demi Pertanian Berkelanjutan

PANDEGLANG - Dinas Pertanian Provinsi Banten mulai memperkuat peran Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) sebagai ujung…

2 minggu ago

Nahkodai PBSI Pandeglang Periode 2026–2030, Muhamad Syahrul Siap Gali Potensi Atlet Daerah

PANDEGLANG - Harapan baru bagi dunia bulu tangkis Kabupaten Pandeglang mulai terbuka setelah Muhamad Syahrul,…

2 minggu ago

Halal Bihalal dan Pelantikan Pengurus DPP-DPD KESTI TTKKDH di Kota Serang, Perkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas

KOTA SERANG — Suasana penuh kebersamaan dan semangat persaudaraan mewarnai kegiatan Halal Bihalal sekaligus Pelantikan…

4 minggu ago

Perawatan Rutin Pamsimas KKM Sehati, Warga Cikentrung Semakin Terjamin Akses Air Bersih

  PANDEGLANG — Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) Sehati Desa Cikentrung, Kecamatan Cadasari, kembali melaksanakan kegiatan…

1 bulan ago