amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss2ac47{clear:both;margin-bottom:1em;margin-top:0em;}div.acssbb8d6{padding-left:1em;padding-right:1em;}div.acss138d7{clear:both;}div.acssf5b84{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:2;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .code-block-default {margin: 8px 0; clear: both;} .code-block- {} .ai-align-left * {margin: 0 auto 0 0; text-align: left;} .ai-align-right * {margin: 0 0 0 auto; text-align: right;} .ai-center * {margin: 0 auto; text-align: center; } .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Serang,- Mahasiswa meminta pemerintah Kota Serang serius dalam penanganan anak-anak yang menjadi manusia silver. Hal tersebut agar predikat Kota Layak Anak (KLA) yang disematkan kepada Kota Serang tidak hanya status saja.
Formateur Ketua Kohati HMI MPO Cabang Serang, Yulianti mengatakan, Pemkot Serang tidak boleh abai dalam mengurusi persoalan anak-anak yang bekerja, termasuk sebagai manusia silver yang ada di beberapa titik lampu merah.
“Jangan sampai Kota Layak Anak hanya menjadi predikat seremonial belaka. Tidak lucu ketika mendapatkan predikat tersebut, tapi anak-anak justru malah dipekerjakan dan dilakukan pembiaran begitu saja oleh pemerintah,” katanya, Senin (1/3/2021)
Yulianti mengatakan, memang sulit menyelesaikan persoalan anak yang bekerja di jalanan, baik sebagai manusia silver, pengamen atau pengemis. Sehingga, dibutuhkan kolaborasi antara seluruh OPD yang terkait.
“OPD terkait seperti Satpol PP, Dinsos, Dindik dan DP3AKB harus bisa berkolaborasi untuk menentukan penyelesaian masalah ini. Harus ada kreatifitas dan komitmen dari Pemkot Serang,” ungkapnya.
Mahasiswi asal Untirta tersebut mengatakan, pemerintah juga harus bisa menganalisis akar persoalan anak-anak yang bekerja di jalanan. Jangan sampai pemerintah salah melakukan analisis, sehingga tidak tepat dalam melakukan penyelesaian.
“Misalkan kalau memang si anak ini dipaksa oleh orang tuanya, tentu perlu ada tindakan tegas karena itu melanggar hukum. Kalau memang ini karena faktor ekonomi, lakukan penyelesaian secara ekonomi,” imbuhnya.
Apalagi jika ternyata anak-anak tersebut hanya ingin meluangkan waktu karena sistem belajar dari rumah yang kurang kreatif, perlu adanya perbaikan besar-besaran dalam sistem pembelajaran selama pandemi.
“Bukan tidak mungkin anak-anak ini ternyata merasa bosan dengan pola pembelajaran yang diberikan. Mungkin mereka bosan karena hanya mendapatkan tugas saja dan melihat adanya peluang untuk mendapatkan uang sambil berinteraksi dengan temannya. Bisa saja itu terjadi,” tandasnya. (Arr)
PANDEGLANG — Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) Sehati Desa Cikentrung, Kecamatan Cadasari, kembali melaksanakan kegiatan…
Di TENGAH derasnya arus digitalisasi dan konvergensi media, posisi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kian strategis…
Pandeglang – Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden,…
LEBAK - Sekretaris Golkar Lebak sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Lebak, Muammar Adi…
Kota Bekasi - Komisi I DPRD Kota Bekasi angkat bicara soal insiden longsor di Tempat…
Kota Bekasi — DPRD Kota Bekasi memastikan akan memperketat pengawasan terhadap kebijakan penyertaan modal pemerintah…