amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss2ac47{clear:both;margin-bottom:1em;margin-top:0em;}div.acssbb8d6{padding-left:1em;padding-right:1em;}div.acss138d7{clear:both;}div.acssf5b84{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:2;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .code-block-default {margin: 8px 0; clear: both;} .code-block- {} .ai-align-left * {margin: 0 auto 0 0; text-align: left;} .ai-align-right * {margin: 0 0 0 auto; text-align: right;} .ai-center * {margin: 0 auto; text-align: center; } .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
TANGSEL,- Harga kedelai terus mengalami kenaikan selama tiga bulan terakhir. Kondisi itu dikeluhkan oleh para pengusaha tempe di Kota Tangsel.
Melambungnya harga kedelai membuat para pengrajin Tempe di Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) harus memutar cara agar tetap bisa mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tempenya tersebut.
Salah satu pengrajin tempe, Mugiono (45) menuturkan, ia harus merogoh kocek yang cukup besar hanya untuk membeli kedelai, sebagai bahan bakunya. “Saya kalau (membeli) satu kuintal (biasanya) itu Rp1,1 Juta, kalau per kilo Rp11 ribu. Itu sangat memberatkan sekali,” kata Mugiono, Kamis, (3/6/2021).
Mugiono menyebutkan, kedelai tersebut, terus mengalami kenaikan sejak Ramadhan lalu. “Sudah sekitar tiga bulan, sebelum puasa sampai sekarang. Kalau kemarinnya Rp800 ribu, terus ada kenaikan Rp50 ribu tapi kan pada demo. Tapi, bukannya turun malah naik sampai Rp900 ribu, sekarang Rp1.100.000,” katanya.
Ia menuturkan, agar tetap mendapatkan untung, pihaknya menyiasatinya. dengan memaksa ukuran tempe yang dibuatnya tersebut. “Ukurannya jadi kami kecilkan. Begitu juga dengan kemasannya,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Mugiono beserta para pengrajin tempe lainnya mengharapkan adanya peran serta dari pemerintah dalam hal mengontrol harga kedelai.
“Harapan kami tentu saja harga kedelai dinormalkan, agar konsumen membuat pendapatan lebih. Enggak seperti saat ini, mudah-mudahan dari pihak pemerintah kasih solusi agar harganya bisa normal,” pungkasnya. (red)
SERANG – Selepas pelepasan resmi Kontingen Banten oleh Gubernur Banten, jajaran pengurus Kontak Tani Nelayan…
SERANG – Gubernur Banten, Andra Soni, secara resmi melepas keberangkatan Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan…
Pandeglang – Setelah melalui berbagai upaya dan perjuangan panjang, Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)…
PANDEGLANG – Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang meresahkan warga akhirnya berhasil diungkap oleh sekelompok…
Pandeglang – Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu oleh meningkatnya biaya transportasi dan…
PANDEGLANG, - Proyek pemasangan saluran drainase menggunakan U-Ditch di Jalan Raya Pandeglang Nomor 3, tepatnya…