Tiga Tips Atasi Stress Anak Pada Masa Pandemi

Pembatasan ruang gerak, membuat anak merasa stress. Tiga tips berikut bisa membantu orang tua mengatasi stress tersebut.
Digdayamedia.id,- Rahma, ibu tiga anak mengaku sempat kewalahan saat menghadapi kegiatan dirumah pada awal Pandemi COVID-19. Imbauan untuk selalu berada dirumah, membuatnya harus membuat rumus pribadi khususnya dalam membagi waktu. “Waktu kerja, kuliah, dan keluarga, harus dibuat seadil mungkin,” jelasnya. Untuk kerja dan kuliah, dia sudah mengantongi jadwal pasti. Namun, waktu keluarga inilah yang justru sedikit rumit untuk dijelaskannya pada anak.
Bukan tanpa alasan, sebelum pandemic Rahma menjelaskan pada anaknya bahwa ketika ia berada dirumah artinya waktu keluarga. Namun, saat ini penjelasan tersebut harus mengalami perubahan dan membutuhkan kesepakatan pasti antara ia dan anak-anaknya. Kegiatan sekolah di rumah, membuat anak merasa stress dan terganggu ruang geraknya. Anak ketiganya kerap kali mogok makan, hanya untuk diizinkan pergi keluar rumah. Bermain bersama teman-teman. Endingnya, ia harus menyuapi anaknya ditengah drama tangis dan rayuan sang anak untuk diberikan izin keluar rumah.
Dilansir dari WHO, 99% anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun di seluruh dunia (2,34 miliar) mengalami pembatasan ruang gerak akibat COVID-19, sehingga anak-anak rentan mengalami stress. Sehingga anak memerlukan perhatian khusus dari orang tua untuk mengatasi permalasahan emosi dan sosial yang dialami selama pandemic. Berikut cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu atasi stress pada anak :
1. Bangun Koneksi Emosional yang Lebih Kuat
Membangun koneksi emosional dapat dibuat dengan cara menyenangkan antar anggota keluarga, waktu yang dihabiskan dirumah jadi nilai lebih. Segala kegiatan yang dilakukan bisa menjadi sebuah sistem utuh yang membangun koneksi emosional.
Beberapa ibu, kerap kali mengeluh kewalahan mengatasi anak-anak yang aktif selama dirumah. Berkejar-kejaran dengan adik atau kakak, berteriak bahkan menangis karena merasa terbatasi ruang geraknya. Wah, rumah jadi ramai. Ibu berbahagialah, karena anak berhasil mengungkapkan perasaannya.
Nah, supaya energinya tersalurkan dengan baik ibu bisa menjadi teman baik anak. Temani anak menyalurkan energinya dalam kegiatan positif. Bagaimana caranya? Kotori dapur, ajak anak memasak bersama. Menggambar bersama-sama. Bernyanyi bersama-sama. Lakukan kegiatan bersama. Buat anak merasakan bahwa Ibu mengerti perasannya, berkoneksi dengannya. Selamat berkoneksi!
2. Jadi Penolong
Anak-anak kerap kali merasa tak berdaya saat tidak dapat menunjukkan eksistensinya. Jika disekolah anak bisa aktif mengikuti kegiatan ekskul atau menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan cepat, saat ini hal tersebut terhalang. Ibu bisa membantu anak menunjukkan eksistensi mereka. Meminta tolong pada anak dalam membantu kegiatan dirumah, seperti membantu memasak, menyuci piring, dan melakukan aktifitas rumah lainnya.
Melibatkan anak dalam kegiatan yang ibu lakukan, akan membuatnya percaya diri. Mereka akan merasa berdaya dan dapat beradaptasi dengan baik. Hal ini, akan menimbulkan keyakinan positif pada anak bahwa ia mampu melewati pandemic dengan baik. Bermanfaat bagi semua orang yang ada disekililingnya, inisiatif dan kepedulian anak akan terlatih secara tidak langsung.
3. Selalu Pertahankan Harapan
COVID-19 menunjukkan bahwa hidup dapat berubah dalam waktu yang singkat. Langit yang cerah, nyatanya tidak secerah perasaan orang-orang yang menatapnya. Ibu, peluk dan sampaikan pada anak bahwa manangis atau kecewa adalah hal yang wajar. Beristirahat dan melakukan hal baru bisa jadi solusi.
Perubahan emosi anak sering kali terjadi saat ini. Menangis, berteriak, mengeluh, tertekan. Ya, anak merasakannya. Boleh jadi melihat #WisudaLDR2020 di media sosial justru membuat anak merasa sedih bukannya bahagia. Menyalahkan diri sendiri, karena tidak bisa merayakan wisuda bersama orang-orang yang ambil andil dalam perjalanan pendidikannya. Efeknya, anak menjadi murung ketika memperhatikan foto dengan teman dan gurunya.
Ibu, hal ini bisa menjadi kesempatan baik mengajarkan arti harapan kepada anak. Menjadi pendengar yang baik dan berbagi kegundahan anak bisa diterapkan. Anak akan belajar untuk mengungkapkan perasaan dan merumuskan solusi terbaik bagi dirinya sendiri. Menemukan rumah yang selalu menjadi tempatnya berharap dan tujuan pulang ditengah usaha-usahanya. Perubahan adalah hal yang wajar, namun harapan dan usaha harus terus dilakukan. Namun, perlu ibu tegaskan perubahan yang kita harapkan memerlukan waktu dan usaha yang lebih. Jadi mereka harus semangat dan tidak boleh pantang menyerah.
Penulis: Nurhanifah, Mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia










