Ada 81 Ribu Keluarga di Kota Serang Beresiko Stunting

SERANG – Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Banten mencatat berdasarkan data tahun 2021 sekitar 81 ribu keluarga di Kota Serang beresiko stunting.
Hal ini diakibatkan beberapa faktor salah satunya akibat sanitasi, dan empat terlalu.
Plt Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Dadi Ahmad Roswandi mengatakan, ada beberapa faktor penyebab tingginya angka stunting di daerah. Mulai dari masalah jamban, sanitasi dan empat faktor terlalu, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak jumlah anak.
“Pasangan muda yang belum memenuhi usianya itu juga beresiko, dan juga pemahaman orangtua yang harus ditingkatkan,” katanya, Jum’at (29/7/2022)
Maka dari itu, Pemerintah Pusat terus bergerak untuk menurunkan angka stunting, termasuk di daerah dengan target capaian 14 persen di tahun 2024 mendatang.
“Di tingkat Provinsi ada 15 instansi yang bergerak mengeroyok agar stunting turun karena Banten ini termasuk provinsi prioritas nasional yang angka stuntingnya diatas rata-rata nasional,” terangnya.
Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin mengatakan, penyelesaian stunting di Kota Serang harus dilakukan secara bersama-sama. Sebab penyelesaian ini tidak hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) semata.
“Penyelesaian stunting harus benar-benar keroyokan, harus benar-benar kebersamaannya utuh kenapa, semua erat kaitannya,” ujarnya.
Tak hanya itu, penurunan stunting juga harus dilakukan oleh masyarakat, khususnya orang tua yang merupakan orang pertama dalam memberikan gizi terhadap anaknya. Sehingga stunting dapat ditekan hingga 14 persen di tahun 2024 mendatang.
“Kami juga punya Ketua TPPS tingkat Kota Serang, ada juga kecamatan dan kelurahan. Ini tugas Ketua TPPS yakni pak Sekda Nanang Saefudin bagaimana mengeroyok melalui OPD-OPD,” paparnya. (Arr)








