Dua Fenomena Alam Pengaruhi Cuaca Ekstrem

SERANG,- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas 1 Serang menyatakan jika puncak musim penghujan masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2021. Selain itu, kondisi juga diperparah dengan adanya fenomena lanina dan Pusat Tekanan Rendah (Low Pressure Area- LPA) atau dikenal sebagai potensi bibit siklon di bagian Selatan Indonesia.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Klas 1 Serang Tarjono, mengatakan jika cuaca yang terjadi pada dua hari yang akan datang terpantau tidak bersahabat. Hal tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor yakni puncak musim penghujan, Lanina dan bibit siklon.
“Untuk dua hari ini, diprediksi memang kurang bersahabat untuk di daerah Banten. Itu dipengaruhi oleh tiga faktor yakni puncak musim penghujan, fenomena lanina dan diperparah dengan low pressure di bagian selatan Indonesia,” katanya saat ditemui di Kantornya, Rabu (24/2/2021)
Tarjono mengatakan jika puncak musim penghujan bukan hanya terjadi di wilayah Banten saja, melainkan di 95 persen wilayah di Indonesia. “Jadi 95 persen wilayah di Indonesia sudah masuk Puncak musim penghujan,” jelasnya.
Tarjono mengatakan, jika fenomena lanina masih terpantau cukup kuat. Diketahui jika fenomena lanina menyumbang singgah 40 persen uap air. “Jadi diprediksi baru akan meluruh sekitar bulan April,” jelasnya.
Tarjono memprediksi jika puncak musim penghujan masih akan berlangsung hingga akhir februari 2021. Namun demikian, karena fenomena lanina masih terjadi hingga bulan April, hujan diprediksi masih akan terjadi hingga bila Juni.
“Puncak musi hujan diprediksi hingga akhir februari, tetapi di bulan Mei dan Juni juga bukan berarti tidak ada hujan, tapi masih tetap ada hujan,” jelasnya
Tarjono mengatakan, terdapat ciri khas yang terjadi di puncak musim penghujan. “Jadi kalau di puncak musim penghujan itu cirinya adalah durasi nya yang cukup panjang. Intensitas nya memang bisa sedang tetapi yang perlu diperhatikan saat musim penghujan adalah durasi nya yang dari malam bisa sampai dini hari,” jelasnya.
Untuk fenomena Bibit Siklon sendiri, Tarjono mengatakan jika terpantau di bagian selatan Indonesia, tepatnya di barat daya Australia. “Jadi artinya boleh disebut bibit siklon. Tadi dibuka lagi kecepatan pusarannya itu 55 knot kekuatan anginnya. Jadi cukup mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia,” pungkasnya. (Arr)









