Diguyur Hujan Semalaman, Satu Rumah di Serang Terkena Longsor

Serang,- Tingginya intensitas hujan yang terjadi di Kota Serang pada Minggu Sore hingga Malam (01/03) menyebabkan satu rumah milik warga di Lingkungan Sempu Seroja, Kecamatan Serang, Kota Serang terkena longsor. Akibatnya, bagian belakang rumah tersebut ambrol.
Pemilik rumah, Cati mengatakan, peristiwa itu terjadi pukul 21.20 WIB malam, saat hujan sudah mulai reda. Tiba-tiba tetangga mendengar suara dari belakang rumah. Menurutnya, kejadian longsor seperti itu baru pertama kali terjadi di musim penghujan kali ini.
“Pukul 21.20 WIB kurang lebih, hujan juga sudah mulai reda, terus menantu saya baru turun ke dapur, untung belum tidur ternyata ambrol. Hujannya memang besar banget semalam, cuma kejadian pas hujan sudah reda, kami juga lagi pada kumpul dirumah,” kata Cati, ditemui di kediamannya, Senin (2/3/2020).
Sementara itu, Walikota Serang Syafrudin saat meninjau longsor mengatakan, selama Januari 2020, ada 17 rumah roboh dan longsor di Kota Serang, salah satunya rumah milik warga Sempu Seroja yang ia kunjungi saat ini dan di Perumahan Griya Permata Asri (GPA) Kelurahan Dalung, Kecamatan Cipocok Jaya.
“Sebagian dapurnya longsor dan perlu bantuan pemerintah dan semua pihak, karena longsor ini menimpa pagar rumah orang dan menutupi jalan. Saya sudah koordinasi dengan pa RT, menunggu matrial datang dulu baru dibersihkan. Dari pribadi saya, BPBD, PU, akan menyumbang, supaya dibuat semacam turap (Dinding penahan Tanah),” katanya.
Dijelaskan Syafrudin, guna mengantisipasi banjir, Pemkot Serang sudah melakukan semenjak sebelum musim hujan, yakni dengan normilasi beberapa sungai di Kota Serang. Tahun 2020 ini menurutnya, titik-titik banjir sudah berkurang di Kota Serang dan hanya perlu dimaksimalkan saja seperti di Kasemen dan Pakupatan.
“Karena curah hujan sangat tinggi, kami imbau kepada masyarakat untuk bisa sama-sama mengantisipasi, terutama membuang sampah jangan sembarangan. Kali, selokan mangpet dikeruk, jangan mengandalkan pemerintah saja. Saya kira masyarakat lebih dominan, lebih penting, karena kekumuhan dan banjir itu berasal dari masyakarat,” tandasnya. (Arr)









