Kisah Keagungan Shalat Tahajud

Kisah Keagungan Shalat Tahajud
_Oleh: Muhamad Bin Syam Ola_
Qiyam al-layl, Shalat Tahajud, inilah senjata utama Muhammad al-Fatih dalam mengarungi kehidupan didunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusyuk, ditegakan setiap malam. Dengan Pedang Malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad al-Fatih. Sejarah mencatat Muhammad al-Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.
Suatu hari timbul persoalan ketika pasukan Islam hendak melaksanakan shalat Jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat Jum’at?” Tak ada jawaban. Tak ada yang berani menawarkan diri. Lalu Muhammad al-Fatih tegak berdiri, kemudian ia bertanya. “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silahkan duduk !” Subhanallah…! Maha Suci Allah, tak seorangpun pasukan Islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Dari sini kita bisa memahami bahwa tentara Islam pimpinan Muhammad al-Fatih sejak remaja hingga hari ini, tak seorang pun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan Shalat Fardhu. Luar biasa…!
Muhammad al-Fatih kembali bertanya, “Siapa di antara kalian yang sejak remaja hingga hari ini pernah meninggalkan Shalat Sunnah Rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silahkan duduk ! “ Sebagian lainnya segera duduk. Artinya, pasukan Islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunnah setelah Maghrib, dua rakaat sebelum subuh dan shalat Rawatib lainnya. Namun ada yang pernah meninggalkannya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur pasukan Islam al-Fatih.
Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukannya, Muhammad al-Fatih kembali berseru lalu bertanya, “Siapakah diantara kalian yang sejak masa akil baligh sampai saat ini pernah meninggalkan Shalat Tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan walau hanya sekali silahkan duduk!” Apa yang terjadi. Terlukislah pemandangan yang menakjubkan, semua yang hadir dengan cepat duduk, hanya tinggal satu orang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah orang itu? Ia adalah Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk benteng Super Power Konstantinopel. Ia adalah orang yang pantas menjadi imam shalat Jum’at hari itu. Karena hanya al-Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT., tak kosong semalam pun.
Sejak abad kedelapan Sahabat Rasulullah SAW berusaha merebut benteng Konstantinopel. Salah satunya Abu Ayyub al-Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng ini berhasil direbut dibawah kepemimpinan Muhammad al-Fatih. Karena jasanya inilah beliau diberi gelar al-Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Ia adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqamah dalam Shalat Tahajutnya.
Hikmah dibalik kisah ini, Tahajud adalah wujud cinta kepada Allah SWT. Bayangkan saja, saat orang lain tengah terlena dalam dekapan malam dan buaian mimpi yang indah, kita bangun untuk menghadap Allah, memanjatkan doa-doa dan memuji-Nya. Ini adalah pekerjaan yang berat, hanya orang-orang yang cinta kepada Allah saja yang dapat melakukan ini.
Semoga kita termasuk orang-orang yang cinta kepada Allah SWT. Amin.
_Penulis adalah Kru Digdaya Mediatama_










