Memetik Hikmah Isra dan Mi’raj Nabi Muhammd SAW

_Oleh: Muhamad Bin Syam Ola_
Tidak terasa bagi kita bahwa pada waktu ini kita sudah memasuki Tahun 1442 Hijriyah/ 2021 Masehi. Dengan memasuki Tahun baru ini berarti kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menambah amal kebajikan dan ibadah kepada-Nya serta melakukan tugas-tugas hidup dengan sebaik-baiknya dalam lingkup karya dan amal yang diridhai Allah SWT.
Banyak hikmah yang perlu kita ambil dari pengalaman-pengalaman dimasa lalu. Hal-hal yang negative hendaknya menjadi peringatan bagi kita agar tidak terulang, dan hal-hal positif tentu wajib kita teruskan dan tingkatkan.
Kiranya pada kesempatan yang baik ini, dimana sekarang kita sudah memasuki bulan Rajab yang kita kenal sebagai bulan Isra dan Mi’raj Nabi kita Muhammad SAW. Kita selaku umatnya perlu mengetahui dan memahami Isra’ dan Mi’raj guna kita mengambil hikmah yang terkandung didalamnya.
Dalam suatu Hadist yang sangat masyhur serta bebas dari segala perbedaan pendapat, yaitu hadist yang diriwayatkan Imam Muslim.
Syaiban ibn Farukh telah telah menyampaikan kepada kami dari Hamad ibn Salamah, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :
Dibawakan kepadaku Buraq sejenis hewan berwarna putih), tubuhnya lebih besar dari pada keledai dan lebih kecil dari pada Bagal (hewan hasil persilangan antara keledai dan kuda) yang langkah kakinya sejauh matanya memandang. Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan para Nabi.
Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat disana. Setelah aku keluar, Malaikat Jibril a.s. membawakan kehadapanku segelas arak dan segelas susu, aku lantas memilih susu. Lalu Jibril pun berkata “Engkau telah memilih Fitrah”.
Selanjutnya kami dinaikan ke langit pertama. Jibril lalu meminta agar pintunya dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintunya, “Siapa kamu?”
Jibril menjawab, “Aku Jibril”
Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”
Dia menjawab, “Muhammad.”
Penjaga pintu langit itu kembali bertanya, “Apakah dia diutus untuk naik menghadap Allah?”
Jibril menjawab, “Dia memang diutus untuk naik menghadap Allah.”
Maka pintunya dibukakan untuk kami, dan aku pun bertemu dengan Adam a.s. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya kami naik ke langit kedua, Jibril a.s. juga meminta agar pintu langit itu dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, kemudian pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan dua orang sepupuku, yaitu Isa ibn Maryam a.s. dan Yahya ibn Zakariya a.s. Keduanya menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya kami dinaikan ke langit ketiga, Jibril a.s lalu meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, kemudian pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang ternyata ketampanannya luar biasa. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya kami naik ke langit keempat, Jibril a.s pun meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, kemudian pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Idris a.s, Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Memang benar firman Allah dalam Surah Maryam ayat 57 : “dan kami telah mengangkatnya (Idrus a.s.) ke martabat yang tinggi”.
Selanjutnya kami dinaikan ke langit kelima, Jibril a.s meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, kemudian pintunya dibukakan untuk kami dan aku bertemu dengan Harus a.s. Dia pun menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya kami dinaikan ke langit keenam, Jibril a.s kembali meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, kemudian pintunya dibukakan untuk kami. Disana aku bertemu dengan Musa a.s. Dia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Selanjutnya kami dinaikan ke langit ketujuh, Jibril a.s kembali meminta agar pintu langit ini dibukakan. Dia pun ditanya oleh penjaga pintu dengan pertanyaan yang sama, maka pintunya dibukakan untuk kami. Disana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur (rumah ibadah pra penghuni langit).
Kemudian Jibril membawaku ke (pojon) Sidratul Muntaha yang daun-daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahnya sebesar kendi. Tatkala Allah menitahkan perintah-Nya, Sidratul Muntaha langsung berubah sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bias menggambarkan karena sangat indah.
Allah pun memberiku wahyu dan mewajibkan shalat lima puluh kali kepadaku dalam sehari semalam.
Kemudian aku turun dari langit dan bertemu Musa a.s. Dia bertanya, “apakah yang diwajibkan oleh Tuhanmu kepada umatmu?”
Aku menjawab, “Lima puluh kali shalat sehari semalal.”
Dia berkata, “Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah kerignanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil”.
Maka aku kembali kepada Tuhanku dan memohon, “Wahai Tuhanku ! berilah keringanan kepada umatku.
Allah SWT lantas mengurangi lima shalat dariku. Kemudian aku kembali menemui Musa a.s. dan ku katakana ,”Allah telah mengurangi lima shalat dariku.” Namun Musa berkata, “Umatmu tidak akan mampu melakukan itu. Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan laig.”
Aku terus mondar-mandir antara Tuhanku dan Musa a.s. hingga akhirnya Allah berfirman :
“Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan”.
Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya”
Maka aku menjawab, “Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.” (Hadis Muslim).
Hikmah-hikmah yang dapat kita petik antara lain:
1. Peristiwa Isra Mi’raj merupakan suatu mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW. Pada Nabi dan Rasul terdahulu tidak ada yang diberikan mukjizat seperti itu, pada nabi terhadulu hanya diberikan mukjizat bersifat hisslah, yakni mukjizat yang dapat dilihat dan dirasakan pancaindera manusia. Sedangkan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW hanya dapat dicerna dengan iman dan akan sehat.
2. Allah SWT memberikan kemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyuruh malaikat Jibril a.s. untuk menjemputnya guna menghadap langsung kepada-Nya. Pada waktu itulah Allah SWT memberikan amanat yang sangat penting kepada Nabi SAW, yaitu perintah melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam yang kemudian diberi keringanan menjadi lima kali shalat sebagaimana yang kita laksanakan sehari-hari.
3. Peristiwa Isra Mi’raj merupakan batu ujian bagi kaum muslimin, terutama pada masa hidupnya Rasulullah SAW. Dimana pada waktu itu diperlukan adanya pribadi-pribadi yang siap berjuang Bersama Muhammad SAW yang dimulai dengan hijrah ke Madinah.
_Penulis adalah Kru Digdaya Mediatama_










