Menolak Menjadi Budak Konsumerisme Dalam Dunia Digital

Oleh: Dede Qodrat Alwajir
Apakah anda akan terus menjadi konsumen? Menikmati setiap produk tanpa bertanya. Terkulai lemas dengan segala kemudahan. Dan tak berkutik dengan segala manfaatnya. Bahkan, karena saking lemahnya, pikiran kita berada dalam level terbawah: tak pernah bertanya lagi.
Dalam bentuk apapun, menjadi konsumen menjadikan kita berada pada posisi paling rendah dalam rantai pasok produksi. Anda akan menjadi tempat pembuangan siapapun yang menciptakan sesuatu. Bahkan hanya dijadikan target pasar.
Contoh saat ini, mesin pencipta besar bukan lagi berbentuk pabrik yang memproduksi barang-barang yang biasa kita gunakan. Seperti Baju, motor, mobil atau makanan kemasan. Saat ini mesin itu berubah menjadi aplikasi yang setiap hari kita buka. Ya, mesin itu bernama sosial media.
Setiap hari, pabrik itu memproduksi konten yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia. Bahkan konon kabarnya, dalam satu detik, ada sekitar 272 video yang diunggah di TikTok menurut Bull & Wolf. Ini berarti ada sekitar 34 juta video yang diunggah setiap hari.
Dengan dalih murah, bahkan tak berbayar. Kita bisa mengakses apa saja. Dengan syarat, kita rela menyerahkan harta kekayaan termahal kita yang berbentuk data pribadi. Apa yang Anda makan, apa yang Anda suka, apa yang Anda tonton, sekarang bukan rahasia lagi. Semua berubah menjadi barang yang diperjual belikan dalam semesta yang bernama algoritma.
Apa yang ramai, apa yang viral, selalu menjadi referensi utama bagi kita. Dengan mudahnya konsumen tergiring untuk menikmati sesuatu. Hanya dengan label viral. Setiap hari kita terombang-ambing dalam laut konten yang di produksi tanpa kenal lelah. Dan parahnya, kita mengkonsumsinya terus menerus tanpa filter. ‘Scroll sosmed’ bahkan menjadi kosakata baru karena menjadi kebiasaan kita.
Sehingga akibatnya, pikiran kita menjadi komoditas yang gampang untuk diobral dan diarahkan. Cukup dengan label ‘viral’ kita semua akan berubah menjadi bebek dalam barisan. Rangkuman pikiran yang diinterpretasi oleh algoritma dengan otomatis menjadikan kita dalam penjara pikiran. Kita akan terkungkung oleh bias ketersediaan yang sengaja kita ciptakan sendiri.
Kini, pilihannya ada pada kita, mau berjalan tanpa arah dengan ombak yang tidak pernah surut atau berubah menjadi salah satu produsen. Dengan menunggangi ombak tersebut lalu jadi pemilik pabrik yang mendapatkan benefit dengan perjuangan yang keras.
Dunia sudah mulai berubah, dari komunikasi satu arah berubah menjadi komunikasi dengan berbagai arah. Dulu, untuk menjadi kaya atau mendapatkan sumber daya kita hanya tau satu saluran, media mainstream. Sekarang semuanya tak lagi sama. Setiap orang sudah memiliki privilege karena dampak sosial media. Tinggal mau atau tidak mengambil langkah.
Ayo bangkit, jadilah produsen, sudahi perbudakan konsumerisme yang menyengsarakan hidup. Mulai saat ini, atau tidak sama sekali. Bila anda sudah memulai. Selamat, anda sudah mencatatkan nama anda dalam proses peradaban. Inilah sejarah kebangkitan dimana tidak semua umat manusia memiliki kesempatan yang sama dalam pentas sejarah.
Penulis adalah Direktur Spectrum Data Indonesia dan Dosen FISIP Universitas Bina Bangsa






