Aku Adalah Aku, Bukan Orang Lain

Digdayamedia.id | Mungkin kalimat membandingkan merupakan hal sepele dan kerap kali terlontar bila orang tua mulai jengkel dengan kemampuan ataupun kebiasaan buruk anaknya. Namun, tahukah anda bahwa membanding-bandingkan anak adalah hal buruk dan memiliki dampak terhadap psikis anak.
“Kok nilai kamu cuma segini sih, tuh contoh kaka kamu rajin, nilainya bagus-bagus”.
Kalimat ini seringkali terdengar jika kemampuan anak tidak sesuai dengan harapan orang tua, mungkin memang niatnya untuk memotivasi sang anak, namun terkadang hal tersebut malah membuat anak merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Mempunyai anak yang cerdas, berprestasi, dan berakhlak baik merupakan harapan setiap orang tua. Orang tua selalu mempunyai kebanggaan sendiri jika anaknya menjadi sosok yang sempurna baik dimatanya sendiri maupun orang lain. Demi mencapai harapan tersebut, orang tua akan melakukan berbagai hal agar si anak memiliki semangat untuk menggapai prestasinya. Salah satunya dengan membandingkan anaknya dengan orang lain yang dianggap sempurna.
Terkadang orang tua terlalu menaruh harapan yang besar terhadap anaknya, tanpa memberi kebebasan kepada sang anak untuk memilih hobi dan kesukaannya. Setiap anak mempunyai potensi yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan, jika dia tidak pintar di pelajaran, mungkin dia mempunyai kecerdasan di bidang seni atau bidang lainnya. Jika anak tidak sesuai dengan yang anda harapkan jangan anggap mereka gagal, karena setiap anak mempunyai kecerdasan masing-masing.
Dikutip dari laman Being The Parent ada 8 dampak buruk yang ditimbulkan dari sikap orang tua yang membanding-bandingkan anaknya:
1. Stres
Saat terus-terusan dibandingkan dengan anak lain, anak akan merasa terbebani.
2. Merasa rendah diri
Anak yang sering dibanding-bandingkan akan cenderung beranggapan bahwa orang lain selalu lebih baik darinya, dan ia tidak mampu membuat sesuatu yang baik sesuai harapan orang tuanya.
3. Menghindari keramaian
Ketika anak terus-menerus dicibir karena kemampuannya yang kurang dibanding orang lain, anak akan menjadi pribadi yang tertutup, dan enggan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar nya sehingga ia susah untuk memiliki teman.
4. Sikap acuh tak acuh
Anak akan cenderung bersikap acuh tak acuh atau cuek dengan lingkungannya karena ia tidak pernah dihargai dan dipedulikan orang lain, sehingga ia merasa tidak penting untuk peduli dengan lingkungannya.
5. Bakat yang ditekan hingga menghilang
Terkadang orang tua seringkali menilai bahwa bakat anak tidak terlalu penting dan akhirnya orang tua terlalu memaksakan kepada anak untuk mendalami bakat lain yang menurutnya lebih baik.
6. Menilai diri sendiri dengan rendah
Saat anak sudah berusaha semaksimal mungkin dan orang tua masih belum puas dan menyuruh mencontoh anak lain. Hal ini akan membuat kepercayaan dalam diri anak akan runtuh dan anak pun mulai berfikir bahwa semua usaha yang ia lakukan tidak akan pernah cukup dimata orang tuanya.
7. Menjauh dari orangtua
Anak akan menjaga jarak dengan orang tuanya, karena berada didekat orang tuanya ia akan terus dibandingkan dengan orang lain.
8. Persaingan antar saudara
Ketika orang tua memuji orang lain dihadapan anak, spontan dalam hati si anak akan timbul rasa benci terhadap orang tersebut, bahkan saudaranya sekalipun.
Untuk para orang tua jika anak mendapatkan nilai rendah, janganlah menyalahkannya dan seolah-olah ia telah mengecewakan kita sebagai orang tua. Rangkul ia dan motivasi ia untuk berusaha lebih baik lagi, dan cobalah untuk selalu memberikan apresiasi terhadap semua usaha dan kerja kerasnya.
(MI)










