amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss2ac47{clear:both;margin-bottom:1em;margin-top:0em;}div.acssbb8d6{padding-left:1em;padding-right:1em;}div.acss138d7{clear:both;}div.acssf5b84{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:2;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .code-block-default {margin: 8px 0; clear: both;} .code-block- {} .ai-align-left * {margin: 0 auto 0 0; text-align: left;} .ai-align-right * {margin: 0 0 0 auto; text-align: right;} .ai-center * {margin: 0 auto; text-align: center; } .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
ASPIRASI KITA

Menghadapi Ketidakpastian dengan Rasa Optimis

Jika disuruh menjelaskan bagaimana setengah perjalanan tahun 2020 ini, saya akan menggambarkannya seperti sebuah kapal yang berada di tengah laut dengan ombak besar setiap saat. Tahun 2020 seakan mengajak kita untuk menerka-nerka apalagi yang akan terjadi selanjutnya, penuh dengan pertanyaan dan ketidakpastian.

 

Banyak hal-hal tidak terduga terjadi, dan yang paling segar dalam ingatan kita jika menyebutkan rangkaian kejadian di tahun 2020 adalah pandemi COVID-19, yang membuat seluruh tatanan kehidupan dunia berubah dalam sekejap. Hal-hal serta kebiasaan yang dahulu kita bisa melakukannya sesuka hati kini semuanya serba terbatas dan serba diatur. Tentu saja, sebagai masyarakat mau tidak mau kita harus terbiasa dengan tatanan kehidupan baru tersebut dengan segala konsekuensi yang ada.

 

Dan yang menarik bagi saya baru-baru ini, adanya sekelompok masyarakat yang di Komandoi Persaudaraan Alumni 212, kemarin (23/06/2020) melakukan demo di depan Gedung DPR. Demo ini di lakukan ingin menuntut agar RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) dicabut atau dibatalkan.

 

Sayangnya peserta demo ini “gagal pintar” memahami substansi apa yang didemo. Demonya sih benar di lakukan didepan Gedung DPR, karena yang mengusulkan RUU HIP itu DPR, tapi mereka menuntut MPR untuk melakukan Sidang Istimewa untuk menurunkan Presiden.

 

Ini seperti Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung sehingga jadi olok-olok. Jadi ketahuan benar kalau demo tersebut tidak murni karena RUU HIP. Ajaibnya lagi, jargonnya tegakkan khilafah, tapi demonya dalam rangka membela Pancasila.

 

Jujur saja saya sendiri gagal pintar memahami demo ini, demo ini sebetulnya mau ngapain, mau menurunkan Presiden? Kalau pun mau menurunkan Presiden harus faham mekanisme konstitusionalnya.

 

MPR tidak bisa ujug-ujug menggelar Sidang Istimewa, harus ada alasan yang cukup, juga setelah mendapat persetujuan DPR dan MK. Presiden bukanlah mandataris MPR, yang bisa diberhentikan MPR.

 

Ya harusnya kalau mau demo jangan “gagal pintar” fahami substansi apa yang mau didemo terlebih dahulu. Bohir demonya seperti kalap, yang penting asal demo, membuang uang sia-sia.

 

Biasanya uang yang terbuang sia-sia itu adalah uang yang tidak berkah, makanya juga digunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, dan itu adalah perbuatan yang sia-sia.

 

Kalau mengaitkan RUU HIP dengan Presiden, itu artinya salah alamat. RUU HIP itu merupakan usulan DPR, jadi yang digugat ya DPR bukan Presiden. Kalau memang tujuannya mau menurunkan Presiden pelajari dulu mekanismenya supaya tidak terlihat Gagal Pintar.

 

Peserta demo RUU HIP ini bukan saja terlihat Gagal Pintar, tapi juga “Gagal Dewasa” dalam beragama. Mengatasnamakan agama dengan segala ateributnya, untuk hal-hal yang tidak produktif, dan keluar dari konteks agama itu sendiri.

 

Saya sendiri secara pribadi juga menolak RUU HIP tersebut, tapi yang saya soroti adalah DPR yang pada umumnya diisi oleh kader partai politik. Titik fokus saya secara substantif menyoroti kepentingan apa yang ada di balik RUU tersebut.

Penulis: Ilham

admin

Recent Posts

Matangkan Persiapan Jelang Asah Terampil Nasional, Kontingen KTNA Banten Bidik Prestasi Terbaik untuk Tanah Jawara

SERANG – Selepas pelepasan resmi Kontingen Banten oleh Gubernur Banten, jajaran pengurus Kontak Tani Nelayan…

1 bulan ago

Lepas Kontingen KTNA ke Gorontalo, Gubernur Andra Soni: Bawa Pulang Prestasi dan Terapkan Ilmu untuk Kemajuan Pertanian Banten

SERANG – Gubernur Banten, Andra Soni, secara resmi melepas keberangkatan Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan…

1 bulan ago

Pandeglang Dominasi Kontingen Banten di PENAS XVII Gorontalo, Pemda Beri Dukungan Penuh

Pandeglang – Setelah melalui berbagai upaya dan perjuangan panjang, Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)…

1 bulan ago

Tanpa Laporan Polisi, Korban Bersama Rekannya Berhasil Amankan Terduga Curanmor

PANDEGLANG – Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang meresahkan warga akhirnya berhasil diungkap oleh sekelompok…

2 bulan ago

Saat Harga Kebutuhan Pokok Meningkat, 410 KPM di Kelurahan Pandeglang Terima Beras Bulog dan Minyak Goreng

Pandeglang – Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu oleh meningkatnya biaya transportasi dan…

2 bulan ago

Pemasangan U-Ditch di Jalan Raya Pandeglang No 3 Timbulkan Kemacetan Hingga 1 Kilometer

PANDEGLANG, - Proyek pemasangan saluran drainase menggunakan U-Ditch di Jalan Raya Pandeglang Nomor 3, tepatnya…

2 bulan ago