Pergi yang Baik

Digdayamedia.id | Butuh keberanian untuk berkata jujur. Apalagi untuk meninggalkan apa yang sudah kita bangun. Detik, menit, jam tak pernah henti membangun kepercayaan, kemampuan dan rasa saling menumbuhkan.
Usaha kita yang begitu lama, sampai sukses seperti dipelupuk mata. Tapi seperti menumbuhkan istana pasir yang runtuh dalam satu sapuan ombak. Itulah takdir. Makna kesabaran yang tak pernah Ada batasnya. Melangkah dengan lelah. Bercengkrama dengan gundah. Terus mengaduh dalam rentetan perjuangan yang tak pernah berakhir.
Bila Kau Pergi dari satu tempat dimana Kau mendapat tertawa bahagia dan murung bersedih. Simpan kisahmu dalam diam. Kekurangan adalah sarana untuk belajar menumbuhkan hal baru. Kelebihan adalah Motivasi standar dasar pencapaian.
Jangan, jangan. Kau umbar-umbar di status Media sosial mu yang tak punya perasaan. Karena orang yang telah membantumu kadang hanya melihat dalam diam. Tak pernah membalas sayatan garam mu dalam luka daging yang menganga. Mereka mungkin lebih tau aibmu yang bukan kepalang. Tapi karena sayang, mereka bersandar lelah dalam kebijaksanaan.
Jika kau mau pergi, pergilah dalam diam. Mengubur luka, mengubur tawa. Bila tak mampu, bolehlah kamu mengumbar-ngumbar luka Untuk menjadi lega. Sejujurnya, padahal, tak Ada yang melukaimu. Yang menjerumuskanmu hanya bayanganmu sendiri. Labil dan kesepian. Butuh pertolongan tapi urat nuranimu sudah kau pecahkan, bukan oleh orang lain. Tapi jalan takdir yang kamu pilih sendiri.
Aku bersedih tapi hidup ini Kejam, Memaksaku untuk tak memikirkanmu lagi. Akan ku Ingat Baik mu. Akan ku lupa burukmu. Manusia adalah makhluk kata yang tak bisa Kau pegang maknanya. Sudahlah, akan kulanjutkan juang ini tanpa dirimu.
Penulis, Dede Qodrat Alwajir, Direktur Pelaksana Spectrum Indonesia










