Hukum Heinrich

Digdayamedia.id | Secara segaja, untuk mengisi waktu perjalanan di kereta saya membawa tulisan yang belum terbaca di rak buku rumah kami. Buku yang dipilih adalah tulisan dari Profesor Rando Kim, salah satu penulis best seller Korea. Prof. Kim begitu ia disebut, dikenal sebagai penulis yang mengangkat tema-tema ringan mengenai kehidupan. Namun meskipun temanya ringan, tulisannya sungguh berat dan sarat makna, judul bukunya “Amor Fati” yang berarti cintai takdirmu.
Dari judulnya saja, kita langsung mengerenyitkan dahi. Berat sekali kalimat “cintai takdirmu”. Mungkin ia berharap kepada para pembacanya untuk lebih banyak merenung dan menerima apa yang Tuhan gariskan dalam hidup. Meskipun begitu, saya benar-benar tertarik akan salah satu bagian dalam buku ini. Bagian ini menjelaskan tentang Hukum Heinrich. Pada halaman 99 Begini kira-kira Prof Rando Kim Menulis:
“Heinrich, yang kala itu itu bekerja sebagai asisten pengawas di sebuah perusahaan asuransi Amerika Serikat, meneliti data beragam kecelakaan kerja dan mengungkapkan bahwa, secara statistic, setiap jenis kecelekaaan yang menyebabkan satu orang luka parah, sebelumnya telah ada 29 orang yang mengalami luka ringan dan 300 orang nyaris terluka, meskipun beruntung bisa menghindari musibah kecelekaan yang sama.”
Prof Kim masih melanjutkan, “Hukum Heinrich yang dilambangkan dengan hukum 1:29:300 ini adalah teori yang sangat penting dalam pencegahan kecelakaan industri dan manajemen resiko. Menurut hukum ini, suatu kecelakaan besar tidak terjadi begitu saja, tetapi sebelumnya sudah ada 29 kecelakaan kecil dan 300 indikasi nyaris kecelakaan. Hal ini biasanya disampaikan saat memberi pengarahan agar senantiasa waspada terhadap indikasi kecelakaan kecil sekalipun.”
Ketika membaca tulisan ini, sebetulnya saya sangat kaget. Ternyata ada ilmuan yang menemukan pola untuk membaca kehidupan sedetil ini. Bagaimana tidak kaget, seringkali dalam beberapa hal kita menyepelekan hal-hal kecil dalam hidup. Misal, tidak menjalankan arahan manajer di perusahaan, atau mengabaikan hal kecil seperti datang tepat waktu dirapat mingguan kantor. Kebiasaan-kebiasaan kecil tadi yang berulang-ulang memupuk konsep diri yang tak terlalu bagus. Akhirnya dalam karir, kita menjadi pekerja yang biasa-biasa saja. Atau dalam capaian hidup kita tak mempunyai apa-apa. inilah kenapa saya terheran-heran dengan hukum Heinrich 1:29:300. Satu kejadian besar, dimulai dari kejadian sedang yang sedikit berdampak dan dilatarbelakangi oleh tiga ratus kebiasaan yang buruk.
Beruntung saya membaca ini sebelum membuat resolusi 2020. Mungkin karena kebiasaan-kebiasaan kecil saya, beberapa resolusi 2019 ada yang tidak tercapai. Menyimpulkan tulisan ini, saya bertekad untuk diri dan kehidupan saya sendiri, tak akan lagi menganggap remeh hal-hal kecil. Meskipun jauh korelasinya antara hadir rapat tepat waktu dengan kesuksesan hidup. Melihat kesimpulan Heinrich saya tak akan mengulangi lagi.
Penulis, Dede Qodrat Alwajir, Direktur Pelaksana Spectrum Data Indonesia










