RESENSI BUKU TAKTIK DAN INTRIK PILKADA

Oleh: Dede Qodrat Alwajir
Pilkada bagi kami bukan hanya kegiatan lima tahunan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pemilihan umum. Pilkada menurut kami sudah menjadi darah daging yang melekat dalam kehidupan sehari-sehari. Sehingga, pilkada menjadi impian serta cita-cita dalam bentuk melahirkan pemimpin yang terbaik. Dalam momen pilkada, kami menyaksikan para pemimpin dari dekat. Melihat mereka gundah, ragu, takut dan kadang bersedih. Momen yang sangat manusiawi dialami oleh para calon pemimpin.
Selain itu, kami juga menyaksikan mana kepala daerah yang benar-benar menginginkan perubahan bagi masyarakat atau hanya mengedepankan citra. Sebuah momen yang seringkali mengelus dada. Berapa biaya yang dikeluarkan negara untuk sebuah penyelenggaraan pilkada. Tentu sangat mahal. Di Provinsi Banten sendiri Menelan Biaya yang sangat mahal. Dilansir biaya nya mencapai 600 milyar.
Begitu berharganya proses melahirkan seorang pemimpin. Karena itulah kami terdorong untuk mendokumentasikan pengalaman kami secara menyeluruh. Meramu perasaan, proses dan fakta-fakta yang kami temukan selama mengurus sebuah Pilkada. Dan buku ini kami harapkan menjadi trigger yang mendorong seluruh masyarakat. Bahwa proses menjadi pemimpin itu bisa dibaca dan digambarkan dengan baik. Sehingga mereka yang memiliki cita-cita menjadi kepala daerah dapat tercerahkan. Karena menjadi seorang pemimpin adalah hak semua warga negara. Tidak boleh lagi dikotak-kotakan oleh latar belakang keluarga, atau segelintir elit yang memiliki sumber daya ekonomi. Apalagi pesanan penguasa yang dibungkus melalui Partai Coklat.
Dari buku “Taktik dan Intrik Pilkada,” kami berharap lahir pemimpin baru yang melahirkan perubahan karena memang dirinya menginginkan perubahan. Bukan dipaksa bicara perubahan hanya untuk terpilih menjadi pemimpin.
Dari Buku yang berhasil kami susun tersebut, setidaknya para calon kepala daerah harus mempersiapkan beberapa hal:
- Audit calon kepala daerah. Pertanyaan yang paling mendasar ketika kita akan menjadi seorang kepala daerah adalah. Benarkah kita sudah layak, kuatkah kita mengemban amanah sebesar ini. Dan tentu saja apakah kita memiliki kapasitas kepemimpinan untuk menuntaskan setiap pekerjaan. Apakah kita mampu untuk bersilaturahmi secara langsung kepada rakyat.
- Memahami survei. tapi bukan alat ukur satu-satunya. Yang perlu dipahami adalah hasil survei bukan hasil akhir. Data yang dimunculkan oleh survei adalah data dinamis saat survei itu dilaksanakan. Artinya kita hanya menjadikan survei sebagai data kajian dan pemetaan saja.
- Syarat Formal menjadi kepala daerah dari jalur Parpol. Setiap kandidat harus memiliki hitungan matang berapa partai politik yang bisa menjadi perahu yang mengantarkannya kepada pencalonan. Untuk Provinsi Banten yang jumlah DPT nya 8,9 Juta dibutuhkan jumlah suara partai politik sebanyak 7,5 persen atau setara dengan 669 Ribu Suara.
- Membuat Visi Misi. visi misi adalah mimpi seorang kepala daerah yang diterjemahkan secara teknokratik melalui proses perencenaan pembangunan daerah. Karena visi misi akan menjadi Rencana Pembangunan Jangka menengah daerah. Oleh karena itu, sejak awal bagi siapapun yang berniat mencalonkan diri segera susun visi misi anda sebelum maju sebagai kepala daerah
- Mematematikakan politik. Banyak yang salah faham bahwa proses politik hanya soal dinamika kualitatif yang tidak perlu di angka kan. Padahal proses pemilu adalah soal matematika karena pada ujungnya yang akan dihitung adalah jumlah suara. Dan semuanya adalah matemika.
- Optimalisasi media massa. Zaman sudah berubah. Kini pusaran ada dalam sosial media. Siapa yang tidak akrab dalam perubahan zaman sudah pasti akan dilibas. Oleh karena itu siapapun yang akan maju sebagai kepala daerah harus sudah akrab dengan sosial media. Sosial media bukan sekedar alat pencitraan, sosial media juga sebagai alat transparansi yang bisa digunakan rakyat untuk menilai seberapa layak dirinya menjadi calon pemimpin.
- Manajemen Aktivitas Kandidat. Begitu sudah ditetapkan sebagai seorang calon kandidat memiliki waktu yang terbatas. Efektifitas waktu kandidat sangat ditentukan oleh tim yang mendefinisikannya. Arahkan semua aktivitas kandidat selalu berdampak pada peningkatan elektabilitas kandidat itu sendiri.
- Manajemen Penanganan Partai Politik. Kita sering salah faham bahwa partai politik hanya dianggap sebagai perahu atau tiket maju sebagai kepala daerah. Menurut kami, partai politik bisa menjadi kekuatan apabila difungsikan dengan benar
- Supertim yang kuat dan ideologis. Dalam hal ini yang dimaksud dengan super tim adalah lingkaran inti kandidat yang sangat kuat. Mereka meminimalkan kepentingan pribadi untuk tujuan kemenangan. Mereka yang bekerja siang malam meramu strategi bersama kandidat. Kami menyebutnya admin pemenangan.
- Menentukan Orang kuat dibalik Pilkada. pilkada tidak ubahnya sebuah perang. Perang sangat membutuhkan pemimpin yang taktis dalam mengambil keputusan. Tak ubahnya sebagai seorang jendral orang kuat dibalik pilkada harus dipatuhi oleh semua elemen pemenangan.
Pilkada 2024 telah berlalu, bahkan kepala daerah terpilih telah dilantik. Mari kita nantikan kerja-kerja mereka selama lima tahun. Seburuk apapun proses yang telah berlangsung, mereka tetaplah kepala daerah yang terlegitimasi oleh suara rakyat. Namun, apakah mereka mampu mewujudkan keinginan rakyat, terlalu dini untuk menjawabnya. Mereka para kepala daerah diberikan waktu selama lima tahun. Setelah lima tahun berlalu, rakyat punya mekanisme untuk memberikan hukuman atas kerja mereka. Hukuman itu tentu kembali dibilik suara.
Penulis adalah Direktur Spectrum Data Indonesia dan Dosen di Universitas Bina Bangsa
Silahkan Klik untuk Pembelian Buku Takti dan Intrik Pilkada










